Ospek dan Bullying (The Invisible Hurt)


Baru-baru ini setiap gue baca berita, nonton tv, ataupun nonton youtube, kasus bullying terhadap seorang anak sd selalu muncul di depan mata gue. Jujur aja, gue nontonnya sedih, prihatin, dan nggak paham sama model interaksi antara sesama manusia yang terjadi belakangan ini.

Ngomong-ngomong masalah bullying, hal tersebut kayaknya sangat berhubungan erat sama yang namanya ospek. Iya, ospek dan bullying sepertinya udah menjadi satu kesatuan yang udah nggak terpisahkan bagi sebagian orang. Walaupun, sekarang juga udah banyak kampus yang menerapkan ospek sebagaimana mestinya. Tapi kampus yang mejalankan ospek nggak ber-perikemanusia-an juga masih banyak.

Sampai sekarang gue masih belum bisa paham sama sistem ospek yang berunsur bullying. Like, “man, ngapain sih?”. Dan jawaban yang gue dapat atas pertanyaan itu dimana mana sama, UNTUK MELATIH MENTAL. Tapi gue gak ngerti aja, emang bisa ya mental dibentuk dalam sehari, dua hari, atau seminggu? Impossible. Gue masih bisa terima dikasih tugas seabrek, nulis essay dan semacamnya selama ospek, karena emang itu bisa mengukur sejauh mana gue bisa bekerja di bawah tekanan. Ketika gue tau hasilnya, gue bisa ningkatin hal tersebut. Namun, lagi-lagi, gue masih belum ngeh dan masih belum bisa terima dengan omong-omongan kasar untuk nguatin mental.

Dari hasil observasi gue ketika selesai ospek dan mulai masuk dunia kuliah, hal-hal yang dilakuin para senior buat neriak-neriakin maba selama ospek ini sama sekali NGGAK EFEKTIF. Kadang-kadang mereka ( yang teriak-teriak dan marah-marah gak jelas, bahkan ngomong kata-kata yang gak semestinya diucapin ) ini gak sadar bahwa apa yang mereka ucapkan dengan kata-kata kasar itu termasuk kategori bullying/verbal abuse, dimana hal itu lebih buruk dampaknya daripada physical abuse. Mereka lupa bahwa orang memiliki kekuatan mental yang berbeda-beda, nggak bisa untuk disamain. Sama hal nya fisik, kekuatan fisik sesorang juga nggak ada yang sama. Bahkan untuk membangun fisik yang kuat itupun nggak bisa cuman dalam waktu seminggu-dua minggu. Lagi, untuk menciptakan baja yang kuat, nggak cukup hanya dengan 3-4 tempaan. Jadi bisa gue simpulin, mental seseorang bisa dibentuk karena HIDUP yang dia jalani dan pola berpikirnya. Bukan karena OSPEK yang berisi verbal abuse yang nggak jelas maksudnya.

Balik ke verbal abuse, banyak juga yang berdalih bahwa hal tersebut untuk mempersiapkan mereka di dunia kuliah dan di dunia kerja. Tapi lagi-lagi, selama gue menjalani perkuliahan, omelan dan bentakan dosen itu masih punya manner. Jujur aja gue sebel kalo denger kata-kata “Anak jaman sekarang mentalnya mental tempe. Cemen” ketika ospek berlangsung. Masalahnya bukan di mental tempe atau bukan, tapi memang apa yang diucapkan sama sekali nggak ada manner nya dan sama sekali nggak layak untuk diucapkan dari mulut seorang mahasiswa yang seharusnya punya ilmu yang cukup bagaimana untuk bersikap. Akhirnya yang gue realize ya ospek model begini hanyalah sebagai  budaya yang diturunkan karena udah terbentuk pola pikir “oh dulu gue diginiin, sekarang waktunya gue ngelakuin hal tersebut”. Dan seniornya juga nge push si panitia itu ngelakuin hal yang sama kepada si maba, karena gak rela tradisi itu ilang.

Gue yakin, mental bisa dibentuk tanpa perlu ngomong kasar. Liat deh Jerman, jepang, dan negara-negara Eropa lainnya. Mental manusia-manusianya oke, etos kerjanya yang super, dan pola berpikir kritisnya nggak perlu diraguin lagi. Apa mereka menerapkan sistem ospek kayak di Indonesia? Jawabannya adalah NGGAK. So, apa masih berpikiran bahwa ngata-ngatain maba itu hal yang benar untuk memper-oke mental seseorang?

Buat para pengkader yang baca ini, no offense and no hard feelings yah. Gue juga tergabung dalam organisasi yang juga melakukan pengkaderan kok. Gue nulis ini buat kita sama-sama refleksiin diri, ngaca. Instead of ngelakuin hal-hal yang nggak penting dan buang-buang waktu untuk suatu hal yang nggak mungkin tercapai (ngomong kasar buat nguatin mental seseorang) mending ospek diisi dengan hal-hal yang lebih berfaedah supaya kualitas calon pemimpin bangsa dan negeri ini punya kualitas yang baik. Bayangin aja nih, masa gue udah setahun kuliah masih belum ngerti di mana lab komputer berada. Parah gak tuh? wkwkwk

Thanks for reading this article!




Comments

Popular posts from this blog

Dua Puluh Satu

Being An Introvert Is Not A Sin ( Menjadi Seorang Introvert Itu Nggak Dosa )